Mustahil baginya, yang tumbuh besar di rumah bordil, menjadi orang suci yang akan menyelamatkan dunia. Ia tak berarti seperti bunga violet yang mekar di ladang. Ia dibenci karena ia rakyat jelata dari distrik lampu merah, dan ia dihormati karena ia seorang orang suci. Namun di sini ada seseorang yang tidak membenci maupun menghormatinya. Sosok bajanya yang beku menatapnya dengan tatapan tenang dan berkata, "Aku takkan membantumu." Secara harfiah, ia tak membantuku. Namun ia melakukan segalanya untukku. "Aku akan mati di hadapanmu." Bahkan kematian. Ia adalah seorang pria bagaikan api biru. Ia hanya tak tahu apakah itu api karena warnanya dingin. Begitu saja, sang ksatria membuat bunga violet mekar.